Milenial Paham Mubadalah

Milenial Paham Mubadalah

Salam sehat dan bahagia bagi para milenial antusias cari ustadz. Pernah denger tentang konsep “mubadalah’, Sebuah cara pandang kesalingan Laki-laki dan perempuan dalam Islam. Salah satu metode tafsir yang digagas oleh seorang ulama asal cirebon, terkait dengan bagaimana Islam memandang Laki-laki dan perempuan sebagai sebuah keseimbangan dan dalam kesetaraan.  Dari judul artikel Milenial Paham Mubadalah, kenapa tim cari ustadz penting memperkenalkan model tafsir ini. Karena memang kondisi ketidak setaraan perlakuan terhadap perempuan yang mengatasnamakan Agama Islam, telah begitu parah. Dimana, peran perempuan semakin sering menjadi dirugikan dan laki-laki sebaliknya yang menyebabkan tidak sehatnya relasi dua pihak. Dan munculnya dominasi satu pihak.

Memahami Konsep Kesalingan

Mengutip dari portal penggiat kesalingan seperti dibawah ini:

Mubaadalah adalah media Islam dan relasi kesalingan antar individu maupun kelompok, terutama antara laki-laki dan perempuan. Terinspirasi dari prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Mubaadalah hadir untuk untuk meneguhkan dan mempopulerkan nilai-nilai keadilan dan kesalingan dalam relasi laki-laki dan prempuan, pada tataran praktek kehidupan sehari-hari, dalam keluarga maupuan bermasyarakat.

Sebagai referensi Portal untuk rujukan, sehingga kaum milenial lebih bisa membangun empati terhadap lawa jenis. Dan belajar lebih dalam tentang metode membangun kesadaran kolektif yang tidak berimbang.

Media ini diinisiasi oleh Faqihuddin Abdul Kodir sebagai ensiklopedia tematik yang berjalan tentang isu-isu kesalingan. Berjalan artinya ia bisa dibaca secara online, diproses mulai dari yang kecil sesuai kemampuan, untuk dikembangkan lebih lanjtu, bisa ditambah dan diperbaharui sesuai kebutuhan dan data aktual, serta menerima tulisan dari kolega dan para pembaca sesuai dengan persipektif dan nilai yang diusung.

Apa itu tema Kesalingan

Dalam Beberapa sumber, konsep tafsir kesalingan hampir agak sulit ditemukan. Disebabkan oleh langkanya penafsir dan para ulama yang benar-benar menguasai kerangka sosial dan perubahanya secara mendalam.  Deskripsi dibawah ini dikutip langsung dari portal resmi mubadalah sebagai acuan bagi kita bersama melihat dan membangun kesadaran akan semangat belajar dan mencari kebenaran berdasarkan metode berpiikir kiritis.

Tema-tema kesalingan antara laki-laki dan perempuan, ke depan, diharapkan bisa mengcakup seluruh isu-isu seputar eksistensi kemanusiaan dalam ranah personal, isu relasi dalam domain keluarga dan arena sosial kemasyarakatan, isu peran negara dalam memajukan akses keadilan pembangunan dan hukum untuk laki-laki dan perempuan, serta instrumen-instrumen global sejauhmana berkontribusi terhadap keberlanjutan hidup yang berkeadilan dan berkesalingan antara laki-laki dan perempuan. Karena menggunakan perspektif Islam, maka tema-tema yang dihadirkan dalam media ini lebih banyak mengaplikasikan metodologi keislaman. Yaitu bagaimana interaksi dengan sumber-sumber otoritatif dalam mewujudkan prinsip dan nilai kesalingan, terutama dengan Qur’an dan Hadits. Di samping dengan sumber-sumber pengetahuan yang lain yang sudah mengakar dalam tradisi Islam: tafsir, fiqh, tasawuf, dan yang lain.

Mengembalikan Semangat Belajar

lebih dari berabad-abad masa kejayaan Islam yang begitu apik dengan Ilmu pengetahuan sulit dikembalikan. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tradisi belajar, berbagi dan penelitian yang kian hari kian terperangkap dalam dominasi kebutuhan ekonomi untuk keseharian. Sehingga jika ingin berjaya dalam pengetahuan dan teknologi mesti bejaya dahulu di wilayah eknomi dan sosial. Dimana mubadalah sebagai tafsir baru akan sangat membantu kita sebagai generasi milenial untuk bersinergi dan kolaborasi.

Leave a Comment