Saya Muslim Milenial

Bagaimana kita sebagai seorang muslim dan milenial mendefinisikan diri?. Jika pernyataan yang sering muncul adalah Saya Muslim Milenial. Bagaimana menunjukan identitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bagaiman menyampaiakan pesan kebaikan yang sering jadi masalah. Karena seakan-akan mengurui orang lain yang bisa saja lebih mengerti dari kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bikin pusing untuk dijawab, mungkin juga tidak perlu dijawab hanya perlu di kerjakan. Seperti yang dilakukan oleh website cari-ustadz.org. Tidak selalu menjadi penting menyuarakan bahasa agama dan bergerombol hadir dalam sebuah forum yang kadang justru bikin orang seagama dan berbeda agama merasa risih. Karena kita terlalu dominan. Sebagai seorang muslim milenial yang mengerti dengan begitu beragamnya negri kita. Kita semakin sadar menyatakan pada dunia empathy pada kondisi orang lain adalah pesan dari agama dan oesan dari menjadi seorang Saya Muslim Milenial .

Saya Muslim Milenial Saya Berempati

Saya mengerti bahwa bisa saja narasi ini tidak sama dengan cara padang. Dan perspektif sahbat muslim yang lain. Karena pencarin identitas bagi setiap orang berbeda-beda. Tidak selalu harus dalam pengembaraan yang jauh. Tapi bisa saja karena diam dan renungan seperti para filosof yang terkenal itu. Tidak perlu juga kita merasa arogan dengan pemahaman yang kita dapat dari satu video ke video lain di dunia maya, karena beragama dalam praktiknya berbeda dengan beragama dalam pembicaraan. Kadang sebagai muslim milenial kita sering tidak bisa menyadari ini.

Dan berempati pada tantangan beragama yang ruitn dan belakangan jika dilihat, dari mimbar-ke mimbar malah menemukan caci dan maki untuk sesama muslim. Waduh..piyung. Jika begini apa yang mesti dilakukan, sikap seperti apa yang mesti diambil. Apakah turut membangun kebencian tersebut dalam prilaku dan narasi yang lain. Melanggengkannya, meyebarkannya atau justru memberikan kesadaran nalar dan logis pada diri kita bahwa, masalah yang selalu mengarah pada upaya melukai mesti dihindari. karena kekuatan seorang muslim milenial adalah pada kemampuannya ber-empati. Pada kesulitaan orang lain, dari persaan minoritas dari masyarakat yang mayoritas. Semua fakta yang kita hadirkan dalam kehidupan kita adalah keputusan kita. Dan konstribusi kita dalam membentuk masa depan generasi yang akan datang. Mempertahankan kantong plastik sebagai alat pembungkus itu salah. Saking salahnya ikan paus gak bisa menghindar  untuk tidak memakannya. Lalu apa budaya yang seperti ini sebagai muslim milenial kita mau pertahankan?

Leave a Comment